h1

Nak, kalau sudah besar ingin jadi apa?

November 22, 2009

Cita-cita itu bisa dibilang keinginan, harapan, dan tujuan yang ingin diraih dan dicapai pastinya. Bisa pula dijadikan pegangan, pedoman,arahan, atau petunjuk dalam hidup. Pasti setidaknya setiap orang pernah bercita-cita. Mau laki-laki, perempuan, dewasa, dan anak-anak pun berhak bercita-cita.

Mengenai anak-anak yang bercita-cita, tidak jauh seperti situasi yang sering kita temui atau malah alami, saat si anak ditanya oleh orangtuanya perihal cita-citanya. Dan sering kita mendengar kalimat, “kalau sudah besar ingin jadi apa nak?” Dan si anak biasanya menjawab ingin menjadi dokter, insinyur, tentara, dan bermacam-macam profesi lainnya.

Seperti pada kisah dari buku ‘When Bunny Grows Up’ karangan Patricia M. Scarry. Disitu dikisahkan tentang lahirnya seekor bayi kelinci, di mana diceritakan seluruh anggota keluarga dari si ibu yang yakin si bayi kelinci akan menjadi polisi berkancing emas, si ayah mengira dia akan menjadi badut sirkus, si kakak laki-laki bertanya kenapa dia tidak menjadi koboi saja, kakak perempuan menganjurkan menjadi pilot, bibi tua menyarankan menjadi pemadam kebakaran, paman tua menganjurkan jadi masinis kereta api. Kakek berharap dia jadi penjinak singa, nenek berpikir dia akan menjadi tukang pos, sepupu laki-laki berharap dia menjadi pemilik toko permen, sepupu perempuan berharap dia menjadi dokter, bibi muda yakin dia akan menjadi penyelamat pantai, paman muda berharap dia akan menjadi petani.

Semuanya mengharapkan si kelinci bungsu punya cita-cita seperti yang mereka anjurkan, tetapi si kelinci bungsu tak mudah terpengaruh, tetap pada pendiriannya bercita-cita menjadi seorang “ayah kelinci”! Ya, menjadi  ayah kelinci yang siap menidurkan anak, bermain kejar-kejaran, memberi hadiah ulang tahun, membacakan cerita bila mengantuk dan mengantar ke tempat tidur, dan sebagainya. Alangkah “sederhana” cita-citanya, tetapi amat dalam dan luas makna di balik kesederhanaan itu!

Satu hal penting yang bisa diambil dari kisah tersebut untuk para orangtua adalah kalau jujur kita akui, sering kali terucap atau tersirat para orangtua ingin menjadikan anaknya ini dan itu, lalu memasok cita-cita yang begitu beragam pada anak-anaknya dengan alasan paling klasik dan populer, agar kehidupan si anak bisa lebih baik dari orangtuanya.

Tanpa para orangtua sadari, rata-rata keinginan mereka atas anak-anaknya sering didasarkan pada keinginan material, seperti menjadi dokter, insinyur, tentara, dan profesi-profesi lainnya. Bukankah itu semua hanya kemasan dan embel-embel saja? Mengapa para orangtua tidak mulai menolong mereka untuk bercita-cita yang lebih esensial, lebih rohaniah, dan lebih fitrah?

Apalah yang bisa manusia ketahui tentang hari depan nanti? Belumlah pasti anak-anak mereka dapat menjadi ini dan itu. Siapa yang bisa memastikan? Akan tetapi, hampir pasti setiap anak akan menjadi dewasa, dan apapun pekerjaannya, apa pun latar belakang akademisnya, apa pun suku dan keturunannya, yang jelas dan pasti, mereka akan menjadi orangtua, seperti kakek, nenek, dan ayah ibu kita juga.

Suatu hari kita akan menikah, dan akan menjadi seorang ayah dan ibu bagi anak-anak kita sebagaimana juga karena itulah fitrah. Namun, memang akhir-akhir ini fitrah adalah sesuatu yang tidak populer, karena manusia sekarang lebih banyak bersikap instan dalam menyikapi kehidupan. Fitrah memang sesuatu yang tidak dipentingkan karena mungkin kita semakin tidak mengenali kehadiran Tuhan dalam keseharian kita.

Buktinya kita lebih banyak melibatkan-Nya dalam sikap dan langkah, besar atau kecil. Sudah sangat lama Tuhan tidak dipentingkan untuk dipergaulkan dalam rumah dan keluarga. Menanam cita-cita menjadi ayah atau ibu adalah perbuatan yang melibatkan-Nya. Namun, bagi sebagian besar orang, menjadi ayah atau ibu tidaklah perlu dimasukkan dalam pemahaman cita-cita karena itu “cuma” fitrah-Nya, “cuma” kebenaran-Nya, “cuma” kehendak-Nya, bukan cita-cita.

Jika ada seorang anak ditanya tentang apa cita-citanya dan ia menjawab ingin menjadi seorang ayah atau seorang ibu, yang bertanya pasti akan tersenyum, merasa lucu, dan mungkin akan mengulangi pertanyaannya.

Padahal, menjadi seorang suami atau istri sekaligus ayah dan ibu yang baik bukan hal yang mudah! Selain ini sangat luhur dan lebih substantif daripada beragam cita-cita yang lain, hal ini menuntut pula kesediaan para orangtua untuk bekerja keras mengupayakannya hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, sebagai misi utama pendidikan kefitrahan.

Untuk menjadi seorang suami atau seorang istri, yang nantinya akan menjadi ayah dan ibu bagi anak-anknya pun tak cukup hanya dengan kata-kata saja(semua bisa bilang cinta kan? Hehe). Tetapi kita perlu mempersiapkan, memperbaiki, dan membuktikan diri dengan serius (karena ini bukan main-main bukan?), bahwa kita bisa menjadi suami yang baik, bisa menjadi istri yang baik, bisa menjadi ayah yang baik, bisa menjadi ibu yang baik, bisa menjadi pemimpin yang baik, bisa menjadi panutan yang baik, dan masih banyak lagi.

Pada akhirnya, suatu hari nanti ada saat kita tahu bahwa kita bisa membuktikannya (When you think  we’re good enough or such). Dan, siapapun nanti yang menjadi istri atau suami kita, insyaALlah itu yang terbaik. Namun, kejarlah yang terbaik itu bukan siapa yang akan menjadi istri atau suami kita, dan karena mengejar yang terbaik, kita pun akhirnya berubah menjadi yang terbaik dengan terus mempersiapkan dan memperbaiki diri kita.

Karena pernah ada yang berkata, menikah itu bukan cuma menuntut  orang lain untuk mengisi kelemahan kita, tapi juga menuntut diri sendiri untuk bisa mengisi kelemahan orang lain. Karena menjadi suami, ayah, istri, dan ibu yang terbaik merupakan prestasi tertinggi dari laki-laki dan perempuan dalam menjalankan peran kemanusiannya, di dunia  dan di mata Allah SWT pastinya.

Teruntuk para orangtua, calon orangtua, calon ayah, calon ibu, calon suami, calon istri, dan dia yang selalu sabar menunggu dan mendorong untuk mengejar dan menjadi yang terbaik.

Dan

Terinspirasi dari “Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi” karya Neno Warisman.

h1

PULANG

September 10, 2009

Float – Pulang

Dan lalu…
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu!
Bersamamu!

Dan lalu…
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru

Dan lalu…
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Dan lalu…
O, langkahku tak lagi jauh kini
Memudar biruku
Jangan lagi pulang!
Jangan lagi datang!
Jangan lagi pulang, rindu!
Pergi jauh!

Dan lalu…
Dan lalu…

h1

MISREAD

September 9, 2009

Kings Of Convenience – Misread

If you wanna be my friend
You want us to get along
Please do not expect me to
Wrap it up and keep it there
The observation I am doing could
Easily be understood
As cynical demeanour
But one of us misread…
And what do you know
It happened again

A friend is not a means
You utilize to get somewhere
Somehow I didn’t notice
friendship is an end
What do you know
It happened again

How come no-one told me
All throughout history
The loneliest people
Were the ones who always spoke the truth
The ones who made a difference
By withstanding the indifference
I guess it’s up to me now
Should I take that risk or just smile?

What do you know
It happened again
What do you know

h1

Owen’s new Dreams in Theatre of Dreams

July 4, 2009

Sebenarnya..Saya tidak ada sangkut pautnya dengan Manchester United ataupun Michael Owen, secara saya bukan fans mereka. Tetapi, Saya akan tetap membahas berita kepindahan Owen ke Manchester United, dari sudut pandang saya sebagai fans Tottenham Hotspur FC. Ok, itu alasan yang sangat dipaksakan sekali memang, sekedar pemberitahuan saja, bahwa saya fans dari Tottenham Hotspur FC. Hehehe..

Jadi, sebenarnya ini adalah “dare” dari “sesesorang” untuk menulis dengan tema yang telah ditentukan, dan temanya adalah “Kepindahan Michael Owen ke MU”. Dan dengan senang hati berusaha seobjektif mungkin, saya akan menulis dari sudut pandang saya sebagai pencinta dan penikmat Sepakbola. Dan mungkin akan ada comment-comment dibawah. Siapa tau? Baik, kita mulai saja laporannya..

Setelah ketidakjelasan akan bermain dimana musim ini, akhirnya Michael “Wonder Boy” Owen secara resmi telah dikontrak oleh Manchester United selama 2 tahun dari Newcastle United dengan status free transfer pada Sabtu, 4 Juli 20009,  setelah berhasil mengikuti tes medis di Old Trafford.

Owen sempat dihubungkan dengan sejumlah klub Premier League, Hull City, Wigan Athletic, dan Everton, setelah Dipastikan Newcastle terdegradasi. Tapi, dengan cepat MU mengamankannya.

Mungkin sekilas keputusan Sir Alex untuk mengikat Owen terkesan buru-buru dan mengejutkan, tapi melihat perburuan mereka di bursa transfer belum memberikan hasil positif. Dengan Karim Benzema dan Franck Ribery yang mustahil untuk didapat. Ditambah MU sangat membutuhkan penyerang baru menggantikan Carlos Tevez dan Cristiano Ronaldo. Owen pun menjadi pilihan yang realistis.

Untuk mendapatkannya, MU tak perlu keluar biaya. Selain itu, dengan nama besarnya, MU tak perlu susah-payah menarik minat penyerang yang berumur 29 tahun ini untuk bergabung. Memang, keputusan MU merekrut Owen terkesan berjudi. Pasalnya, Owen tidak menunjukkan performa bagus dan konsisten dalam beberapa musim terakhir. Namun, di sisi lain, Pemain yang pernah meraih Balon d’Or pada tahun 2001 ini, diyakini masih mampu kembali kepada permainan terbaiknya asal mendapat perawatan di klub yang tepat.

Bagi Owen, pindah ke MU diyakini akan mengembalikannya kepada performa terbaik. MU memiliki staf medis mumpuni, yang bisa membantunya mengatasi masalah cedera. Selain itu, tampil di klub besar akan membakar motivasi dan semangat kompetisi Owen. Ini baik untuk pemulihan penampilannya.

Yang perlu diperhatikan disini adalah kemungkinan Owen dimainkan secara reguler, ditandemkan dengan Rooney, menjadi ujung tobak kembar, dengan pola 4-4-2. Disini Rooney dapat kembali ke posisi idealnya di MU dan Timnas, yaitu Central Fordward. Melihat juga, masih meragukannya kemampuan dan kapabilitas Berbatov musim lalu (pindah sih, Hahaha).

Dan itu berimbas, kemungkinan lagi bagi Pemain yang telah menyumbangkan 40 gol dan 89 caps untuk Inggris ini, ditarik Don Fabio kembali ke Three Lions. Melihat kelemahan Timnas Inggris, adalah selama ini tidak ada yang cocok striker-striker lain berpasangan dengan Rooney.

Kembali ke MU. Owen memberikan opsi tambahan untuk formasi racikan Sir Alex musim depan. Dengan Owen adalah tipe Striker yang sangat mengandalkan kecepatan (mungkin tidak secepat dulu) dalam mengacak-ngacak pertahanan lawan, akurasi, dan presisi dalam melakukan finisihing. Cocok ditandemkan dengan Rooney yang bertipe eksplosif dan memiliki shoot power yang sangat kencang. Lain lagi dengan Berbatov, dia penyerang bertipe holding ball, menggunakan teknik-teknik tinggi untuk melewati lawan, dan menggunakan tinggi badannya untuk menyambar bola-bola atas.

Dan inilah perkataannnya. “Aku ingin berterima kasih kepada Sir Alex Ferguson karena memberi kepercayaan kepadaku. Aku juga memberinya jaminan untuk membayar kepercayaan ini dengan permainan bagus dan banyak gol,” janjinya.

Semoga saja “impian” Owen dan Sir Alex tidak bertepuk sebelah tangan, di Theatre of Dreams musim depan. Dan yang menjadi pertanyaan dari Saya. Akankah Owen ikut melawan Timnas Indonesia pada 20 Juli nanti?

h1

Filosofi Dibalik Tulisan

July 4, 2009

Dari tulisan-tulisan seorang, Kita dapat melihat bangunan perasaan dan pikiran si penulis, nafsu-nafsunya, kecenderungannya, impiannya, ketololan dan kekurangannya, kecerdikannya, kecerdasannya, pengetahuan, dan semua jalin-berjalin seperti benang-benang kaca yang jernih. Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian.

* Dikutip dari Roman terakhir dari Tetralogi Buru, Rumah Kaca. Karya Pramoedya Ananta Toer.