Cita-cita itu bisa dibilang keinginan, harapan, dan tujuan yang ingin diraih dan dicapai pastinya. Bisa pula dijadikan pegangan, pedoman,arahan, atau petunjuk dalam hidup. Pasti setidaknya setiap orang pernah bercita-cita. Mau laki-laki, perempuan, dewasa, dan anak-anak pun berhak bercita-cita.
Mengenai anak-anak yang bercita-cita, tidak jauh seperti situasi yang sering kita temui atau malah alami, saat si anak ditanya oleh orangtuanya perihal cita-citanya. Dan sering kita mendengar kalimat, “kalau sudah besar ingin jadi apa nak?” Dan si anak biasanya menjawab ingin menjadi dokter, insinyur, tentara, dan bermacam-macam profesi lainnya.
Seperti pada kisah dari buku ‘When Bunny Grows Up’ karangan Patricia M. Scarry. Disitu dikisahkan tentang lahirnya seekor bayi kelinci, di mana diceritakan seluruh anggota keluarga dari si ibu yang yakin si bayi kelinci akan menjadi polisi berkancing emas, si ayah mengira dia akan menjadi badut sirkus, si kakak laki-laki bertanya kenapa dia tidak menjadi koboi saja, kakak perempuan menganjurkan menjadi pilot, bibi tua menyarankan menjadi pemadam kebakaran, paman tua menganjurkan jadi masinis kereta api. Kakek berharap dia jadi penjinak singa, nenek berpikir dia akan menjadi tukang pos, sepupu laki-laki berharap dia menjadi pemilik toko permen, sepupu perempuan berharap dia menjadi dokter, bibi muda yakin dia akan menjadi penyelamat pantai, paman muda berharap dia akan menjadi petani.
Semuanya mengharapkan si kelinci bungsu punya cita-cita seperti yang mereka anjurkan, tetapi si kelinci bungsu tak mudah terpengaruh, tetap pada pendiriannya bercita-cita menjadi seorang “ayah kelinci”! Ya, menjadi ayah kelinci yang siap menidurkan anak, bermain kejar-kejaran, memberi hadiah ulang tahun, membacakan cerita bila mengantuk dan mengantar ke tempat tidur, dan sebagainya. Alangkah “sederhana” cita-citanya, tetapi amat dalam dan luas makna di balik kesederhanaan itu!
Satu hal penting yang bisa diambil dari kisah tersebut untuk para orangtua adalah kalau jujur kita akui, sering kali terucap atau tersirat para orangtua ingin menjadikan anaknya ini dan itu, lalu memasok cita-cita yang begitu beragam pada anak-anaknya dengan alasan paling klasik dan populer, agar kehidupan si anak bisa lebih baik dari orangtuanya.
Tanpa para orangtua sadari, rata-rata keinginan mereka atas anak-anaknya sering didasarkan pada keinginan material, seperti menjadi dokter, insinyur, tentara, dan profesi-profesi lainnya. Bukankah itu semua hanya kemasan dan embel-embel saja? Mengapa para orangtua tidak mulai menolong mereka untuk bercita-cita yang lebih esensial, lebih rohaniah, dan lebih fitrah?
Apalah yang bisa manusia ketahui tentang hari depan nanti? Belumlah pasti anak-anak mereka dapat menjadi ini dan itu. Siapa yang bisa memastikan? Akan tetapi, hampir pasti setiap anak akan menjadi dewasa, dan apapun pekerjaannya, apa pun latar belakang akademisnya, apa pun suku dan keturunannya, yang jelas dan pasti, mereka akan menjadi orangtua, seperti kakek, nenek, dan ayah ibu kita juga.
Suatu hari kita akan menikah, dan akan menjadi seorang ayah dan ibu bagi anak-anak kita sebagaimana juga karena itulah fitrah. Namun, memang akhir-akhir ini fitrah adalah sesuatu yang tidak populer, karena manusia sekarang lebih banyak bersikap instan dalam menyikapi kehidupan. Fitrah memang sesuatu yang tidak dipentingkan karena mungkin kita semakin tidak mengenali kehadiran Tuhan dalam keseharian kita.
Buktinya kita lebih banyak melibatkan-Nya dalam sikap dan langkah, besar atau kecil. Sudah sangat lama Tuhan tidak dipentingkan untuk dipergaulkan dalam rumah dan keluarga. Menanam cita-cita menjadi ayah atau ibu adalah perbuatan yang melibatkan-Nya. Namun, bagi sebagian besar orang, menjadi ayah atau ibu tidaklah perlu dimasukkan dalam pemahaman cita-cita karena itu “cuma” fitrah-Nya, “cuma” kebenaran-Nya, “cuma” kehendak-Nya, bukan cita-cita.
Jika ada seorang anak ditanya tentang apa cita-citanya dan ia menjawab ingin menjadi seorang ayah atau seorang ibu, yang bertanya pasti akan tersenyum, merasa lucu, dan mungkin akan mengulangi pertanyaannya.
Padahal, menjadi seorang suami atau istri sekaligus ayah dan ibu yang baik bukan hal yang mudah! Selain ini sangat luhur dan lebih substantif daripada beragam cita-cita yang lain, hal ini menuntut pula kesediaan para orangtua untuk bekerja keras mengupayakannya hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, sebagai misi utama pendidikan kefitrahan.
Untuk menjadi seorang suami atau seorang istri, yang nantinya akan menjadi ayah dan ibu bagi anak-anknya pun tak cukup hanya dengan kata-kata saja(semua bisa bilang cinta kan? Hehe). Tetapi kita perlu mempersiapkan, memperbaiki, dan membuktikan diri dengan serius (karena ini bukan main-main bukan?), bahwa kita bisa menjadi suami yang baik, bisa menjadi istri yang baik, bisa menjadi ayah yang baik, bisa menjadi ibu yang baik, bisa menjadi pemimpin yang baik, bisa menjadi panutan yang baik, dan masih banyak lagi.
Pada akhirnya, suatu hari nanti ada saat kita tahu bahwa kita bisa membuktikannya (When you think we’re good enough or such). Dan, siapapun nanti yang menjadi istri atau suami kita, insyaALlah itu yang terbaik. Namun, kejarlah yang terbaik itu bukan siapa yang akan menjadi istri atau suami kita, dan karena mengejar yang terbaik, kita pun akhirnya berubah menjadi yang terbaik dengan terus mempersiapkan dan memperbaiki diri kita.
Karena pernah ada yang berkata, menikah itu bukan cuma menuntut orang lain untuk mengisi kelemahan kita, tapi juga menuntut diri sendiri untuk bisa mengisi kelemahan orang lain. Karena menjadi suami, ayah, istri, dan ibu yang terbaik merupakan prestasi tertinggi dari laki-laki dan perempuan dalam menjalankan peran kemanusiannya, di dunia dan di mata Allah SWT pastinya.
Teruntuk para orangtua, calon orangtua, calon ayah, calon ibu, calon suami, calon istri, dan dia yang selalu sabar menunggu dan mendorong untuk mengejar dan menjadi yang terbaik.
Dan
Terinspirasi dari “Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi” karya Neno Warisman.



